SELAMAT DATANG DI SDN 3 PASURUAN

SELAMAT DATANG DI SDN 3 PASURUAN

Senin, 30 Desember 2013

SELAMAT DATANG DI SDN 3 PASURUAN
KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN PROPINSI LAMPUNG

* Beriman, Bertakwa, Berprestasi, berbudaya dan berwawasan IPTEK*

PROFIL SEKOLAH DASAR NEGERI 3 PASURUAN

1. Nama Sekolah                     : SDN 3 PASURUAN
2. Nama Kepala Sekolah         : Drs. HERIANTO,  M.M
3. NSS / NIS / NPSN             :  101120119052 / 100030 / 10810867
4. Jenjang                                : SEKOLAH DASAR
5. Status                                  : NEGERI
6. Akreditasi                           :  B
6. Kelompok Sekolah              : SD Inti.
8. Tahun Berdiri                      :  1984
9. Alamat                                : JL. SATRIA 2 DESA PASURUAN
10. Kecamatan                        : PENENGAHAN
11. Telpon                               : (0727) 7336047
12. Fax                                    :  (0727) 7336047
13. Propinsi                             : LAMPUNG
14. Blogs                                 : www.sdn3-pasuruan.blogspot.com
11. E-mail                                : sdn3_pasuruan@yahoo.co.id

Jumat, 06 Desember 2013

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan
limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak
ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara
langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,
teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara
menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10
kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau
dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini
kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka
justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian
dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan
ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak
timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =
500 gram,ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau
pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100
gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,
tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau
dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas
dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita)
menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah
mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak
kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah
tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.
Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk
melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan
petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak
menjadi beban psikologis bagi mereka ; “acuan sistem timbang legal yang
mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional, yang
menyatakan bahwa 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep.
Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku
konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut dipertanyakan
pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yng
melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa
yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu
contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue
dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah
nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai
hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur,
Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat
Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita
ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya,
materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal
kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat
berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru
bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti
aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan
yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri
yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
dengantantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan
promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons
dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar.
Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan
kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi
penerus bangsa ini.
# # # # #
Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan
mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.
Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum,
untuk diketahui secara luas.
Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak
/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.
Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya
langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota
anda berada.
Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi
menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati
upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
# # # # #
Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. Ditengah
orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. Memang banyak orang
yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti banyak orang itulah
yang pasti dan selalu benar.
LEMBAR PELENGKAP TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799
Kuantitas Satuan Simbol Keterangan Panjang meter m Bukan mtr Luas meter persegi  m2 Isi meter kubik m3 Berat gram g Bukan gr Takaran liter l 1 l = 1.000 cm3 (cc)
Suhu derajad Celcius ºC
BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
Awalan Faktor Pengal Simbol / Singkatan
Contoh Pemakaian
Giga 1.000.000.000 G GHz
mega 1.000.000 M MW
kilo 1000 k km
hecto 100
h ha
deka 10 da dam
deci 0,1 d dm
centi 0,01 c cm
mili 0,001 m ml
micro 0,000.001 μ
μF
dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran
tanah yang diakui sah secara internasional.
Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik
maupun non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.

Kamis, 05 Desember 2013

JADWAL SEMESTER GANJIL TP. 2013/2014



JADWAL ULANGAN UMUM SEMESTER GANJIL
TINGKAT SEKOLAH DASAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
SDN 3 PASURUAN KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
Pasuruan, 10 – 16 Desember 2013

HARI SELASA,10-12-2013
07.30 – 09.30                      : BAHASA INDONESIA
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      : PENDIDIKAN AGAMA

HARI RABU,11-12-2013
07.30 – 09.30                      : MATEMATIKA
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      : PENDIDIKAN KWARGANEGARAAN

HARI KAMIS,12-12-2013
07.30 – 09.30                      : ILMU PENGETUAN ALAM
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      : BAHASA INGGRIS

HARI JUM’AT,13-12-2013
07.30 – 09.30                      : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      :

HARI SABTU,14-12-2013
07.30 – 09.30                      : BAHASA LAMPUNG
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      :

HARI SENIN,16-12-2013
07.30 – 09.30                      : SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
09.30 – 10.00                      : ISTIRAHAT
10.00 – 11.30                      : PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN


NB. “ Untuk kelas I & II,III Pelajaran Bahasa Inggris Tidakada

Rabu, 27 November 2013

Cita-Citaku : Menjadi Anggota DPR

Semua anak menunjukkan tangannya dengan yakin dan bangga, ketika sang guru disekolah menanyakan apa cita-cita mereka kalau sudah besar nanti. Walau sebetulnya mereka tidak paham, apa itu pekerjaan sang pilot, apa pekerjaan seorang nakhoda kapal, sulitnya pekerjaan menjadi prajurit, tentara, polisi, dan lain-lain.
Hanya baju yang nampak gagah membuat anak-anak ingin menjadi polisi dan mengkhayal menjadi polisi yang berani luar biasa mengalahkan pencuri dan kejahatan dimana-mana. Ah anak-anak memang lucu dengan dunianya dan khayalannya.
KNamun ada satu hal yang membuat kami terharu, ketika Rahma, putri ustadzah Yoyoh almarhumah mengatakan bahwa dia ingin menjadi anggota DPR. mengapa..? karena anggota DPR senang ngaji, baca al-qur’an dan rajin sholat, demikian ringis Rahma sang putri bungsu yang berusia 5 tahun sambil memeluk lengan ibundanya.
Imagetersebut dapat terbentuk bila kita semua dengan pekerjaan kita masing-masing gemar melakukan ibadah, maka anak kita akan menjadi apa saja karena alasan tersebut, “Mau menjadi guru, karena sang guru sabar, berwibawa, wangi dan perhatian”
“Mau jadi supir, karena sang supir selalu baca do’a dahulu sebelum menjalankan kendaraannya dan memastikan semua penumpang aman.”
Polisi yang rajin membaca al-qaur’an, perawat yang rajin sholat, dokter yang ramah dan rajin mengaji, itulah yang harusnya kita tanamkan pada anak-anak kita, mau menjadi apapun mereka nanti. Apapun cita-cita mereka, maka mereka wajib untuk melakukan ibadah sebaik-baiknya, dan hal itu tidak mudah, harus dimulai dari kita sendiri menjadi seseorang yang ahli ibadah juga.
Yuk kita rubah image anak-anak, bahwa ustadz pun sama hebatnya seperti dokter atau pilot.

Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah tangga saja mulai  dari mengurus anak, cucian, jemuran, masak nasi yang kelebihan dan lain-lain. Syifa, anak gadisku dan aku ketika kami baru masuk garasi melihat ke kebun tempat kami menjemur pakaian, “Ya Allah, aku stress deh Mi lihat pakaian dimana-mana, ada yang di kamar, di jemuran, di keranjang cucian, kok kerjaan rumah ga habis-habis ya mi. Ini si Zaki sih pakai baju banyak, sebentar-sebentar ganti, disini tuh gak ada pembantu Zak, kalau gak perlu ga usah ganti baju lah” ucap Syifa merungut. “Ha.. ha.. ha..” aku hanya tertawa perlahan dan menjawab “ya udah Syifa, kerjakan semampunya saja, sisanya Umi yang mengerjakan.”
Ku Tanya lagi, “Syifa mampu menyetrika berapa lembar baju hari ini? Lima yah?” Tanyaku. Syifa mengatakan “tidak, Syifa setrika semuanaya saja Mi, baju kalau tidak disetrika kan gak enak, Umi masak saja Ok.” Aku mengerti perasaan Syifa anakku dan mungkin banyak ibu rumah tangga lainnya yang sudah stress duluan melihat kerja rumah tangga yang menumpuk.
Intinya adalah manajemen waktu, manajemen pekerjaan dan jangan menunda melakukan segala sesuatu. Bila bisa dikerjakan hari ini, yaa kerjakan segera, juga disiplinkan semua anggota keluarga agar masing-masing membereskan dan merapikan barangnya masing-masing. Intinya semua adalah manajemen, manajemen dan disiplin. Sebagai contoh, aku tidak mengiris bawang setiap hari, aku mengiris bawang seminggu sekali dan semua irisan aku simpan di kotak plastik, simpan di kulkas dan ketika mau dipakai tinggal ambil saja lalu kembalikan kembali ke kulkas, juga waktu memasak aku batasi hanya 45 menit sehari tidak lebih. Beres-beres rumah hampir tidak pernah, karena tidak ada barang di rumah, bila ada mainan anak-anak, maka dia wajib membereskan kembali semua mainan dan dikembalikan pada kotak mainannya kalau tidak, maka anak tidak boleh main lagi pada hari itu. Namun anak harus diajarkan dimana harus membuang sampah, dimana harus makan, dimana harus meletakkan mainan dan mengembalikannya.

Ketika Anak Yang Soleh Lupa Berdoa

Ibu dan anak BerdoaIngat maupun tidak, tapihadist mengenai anak soleh akan mendoakan orangtua, atau anak yang soleh doanya dikabulkan dan akan menolong orangtua ketika di akhirat kelak sangat familiar ditelinga bu Nisa.
Orang tua mana yang tidak mau punya anak yang soleh, segala cara terus dilakukan untuk mendapatkan anak yang soleh. Baik menyekolahkan ditempat yang mahal, yang agamanya bagus, sampai mengantar jauh keluar kota untuk mendapatkan anak yang soleh.
Ya,anak yang soleh harus diupayakan dan sudah merupakan kewajiban orangtua untuk men-solehan anaknya dengan cara yang benar.
Belajarlah anak yang soleh ini, dengan segenap kemampuannya, tawa riangnya membuat dia mampu atau tidak mampu menjadi anak yang soleh. Ada anak yang sebentar saja langsung menjadi soleh, ada anak yang lama sekali baru soleh, ada juga anak yang dipukulin dulu baru soleh. Ada juga anak yang setelah ibu atau ayahnya meninggal baru soleh, memyesal dan teringat semua kata-kata dan nasehat orang tua-nya ketik masih hidup. Selain itu, ada juga anak yang sama sekali tidak soleh, atau gagal menjadi anak yang soleh, bahkan mental dan membenci semua yang berbau Islam, berbau agama, naudzubillhmindzalika.
Orangtua memang harus lelah untuk menjadikan anaknya soleh, bahkan bagi oangtua yang sudah bersusah payah menjadikan anaknya soleh; berdoa setia malam, dan mendatangkan guru dan ustad untuk mengajari anaknya dengan harapan dapat mensolehkan anaknya. Namun, ternyata anak soleh tidak kunjung juga didapatkan, jangan bersedih hati, percayalah Allah tidak tidur.
Panci yang dipakai untuk masak rendang berhari-hari, tentu saja dasar panci akan mengeras dan berwarna hitam, walau akhirnya dipakai untuk sup sekalipun, sang panci tetap berwarna hitam bekas rendang. Maka walau anak yang soleh pada akhirnya tidak sesoleh yang diinginkan, semua pelajaran dan pendidikan untuk mensolehkan anak itu, tetap membekas dalam lubuk hatinya dalam pikirannya, dalam bawah sadarnya. Gerakan sholat yang pernah diajarkan, setiap kebaikan yang selalu dibisikkan, keinginan berbuat baik, ilmu-ilmu tersebut sudah tertanam dan membekas dalam dirinya! Hanya saja lingkungan yang akan mempengaruhinya, bila lingkungan buruk dan kurang nuansa agama, maka akan membuat sang anak tetap soleh dengan versi berbeda. Misal; anak yang dulunya dipesantren lalu menjadi artis sinetron atau penyanyi, maka lagu-lagu yang dibawakan masih religius, tidak liar juga, walau Iingkungannya adalah lingkungan perfileman/entertainment. Namun, keinginan untuk menjadi orang baik dalam lingkungan tersebut tetap ada, masih ada rambu- rambu dalam dirinya. Tidak ada kata sia-sia dalam mendidik anak yang soleh, yang sia sia adalah bila tidak mendidik.
Hanya saja yang suka lupa didengungkan para guru dan orangtua terhadap anaknya adalah menanamkan kebiasaan mendoakan orangtua, bukan dengan doa yang rutin; Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.” Namun, doa yang betul-betul untuk orang tua yang dihayati dan dipahami, dan menanamkan betapa pentingnya arti doa kita bagi orangtua. Doa anak yang soleh bukan doa anak biasa, pertama soleh dulu, kedua adab berdoa dan pentingnya doa tersebut, kalau perrlu sebuah sekolah bagus juga bila mengadakan rutinitas pagi berupa doa bagi orangtua, dimana anak-anak diajarkan dulu menulis dan berpikir doa apa yang sebaiknya dilantunkan buat orangtua.
Tiga hari lagi bu Nisa ulang tahun, dan yang dipikirkannya bukan hadiah dari anak-anak berupa kado ini atau kado itu, tetapi berupa doa yang sudah disiapkn anak-anak sejak minggu lalu, doa yang berkualitas bukan doa yang dihafal beramai-ramai didalam kelas. Doa spesifik yang hanya anak kita lantunkan untuk orang tua tersayangnya

Bila Ibu Terlalu Sayang

“Jadi begini bu, gigi geraham anak ibu sudah mulai tumbuh, nah proses gigi geraham sampai sempurna itu kira-kira setahun. Namun belum sampai setahun saat  pertumbuhan baru setengah, gigi geraham ini sudah bolong setengah,” ucap dokter gigi yang bertubuh besar namun lembut  menerangkan dengan perlahan-lahan kepada sang ibu. Dokter gigi itu pun nampak gemas dengan mengatakan kepada sang ibu; “ini pasti karena anaknya malas sikat gigi yah Bu, harusnya dikontrol anaknya Bu, paling kurang dua kali sehari menggosok giginya dan caramembersihkan giginya itu harus rapih dan teratur, kurangi makan yang manis-manis, minuman panas, minuman dingin karena dikhawatirkan akan membuat gigi menjadi rapuh.”
Sang ibu yang dikenal dengan Bunda Esti, yang siang terik itu membawa anaknya yang bernama Ihsan berobat ke dokter gigi, hanya bisa termangu dan kemudian mencubit kecil lengan anaknya. “Tuh kan, apa bunda bilang, kamu sih malas benar gosok gigi, maunya makan coklat melulu…” ucap Bu Esti kepada anaknya.
Ihsan kecil yang bertubuh gembul dan berwajah lucu hanya bisa meringis kesal. “Aduuuuuh… sudah sakitnya setengah mati, dokter malah cermah lagi, bunda juga malah marah-marah terus, gimana sih gak pengertian amat,” gerutu kecil Ihsan. Namun tak lama kemudian “astagfirullahaladzhim,astagfirullahaladzhim”  ucap Ihsan. Ihsan teringat kata ustadz Tarkim yaitu kalau ada yang sakit, banyak-banyak istighfar karena ketika kita sakit namun kita  ikhlas maka dosa-dosa akan dihapusakan. “Yaa Allah, cuma Engkau yang bisa menolong aku, dokter dengan bunda malah marah-marah saja,” doa Ihsan dalam hati.
“Oke, oke aku akan gosok gigi lima kali sehari bunda, pagi lalu sore lalu ketika selesai makan nasi dan ayam goreng, tapi cepet dong bunda sakittt nih…” keluh Ihsan sambil tangannya yang bulat memegang pipinya yang terlihat kemerahan karena membengkak. Dokter Riko tidak bisa melakukan perawatan apapun karena gusi yang berada dibelakang gigi Ihsan membengkak sehingga Ihsan harus pulang dulu dan mengempiskan bengkaknya dengan obat yang ditulis dokter Riko.
Dokter Riko menyalahkan bunda, bunda menyalahkan Ihsan lalu ketika ayah pulang, ayah menyalahkan bunda karena menurut ayah, bunda terlalu memanjakan Ihsan. Ayah juga mengatakan bahwa bunda juga tidak disiplin, bunda tidak tegaan, mentang-mentang Ihsan anak bungsu, dan kebetulan Ihsan berwajah bulat lucu, kalo Ihsan merengek minta makanan dan cemilan apa saja dan pada jam berapa saja, bunda selalu kabulkan. Seringkali Ihsan keasyikan nonton film kartun sampai jam 8 malam, sehingga ketika selesai makan malam, lalu film kartunnya selesai, Ihsan pun lalu mengantuk dan terlelap di sofa. Bunda dengan penuh kasih sayang menggendong Ihsan ke dalam kamar lalu menyelimutinya, mematikan lampu, lalu membisikkan doa mau tidur, terakhir mengecup kening Ihsan tanpa menyuruh Ihsan untuk menggosok gigi sebelum tidur.
Begitupun di pagi harinya, bunda tidak menyuruh Ihsan menggosok gigi dengan semua alasan Ihsan yang selalu ditoleransi bunda. Ihsan merasa kedinginan giginya kalau pagi-pagi menggosok gigi. Menurut ayah kenapa bunda tidak berpikir kalo memang itu alasan Ihsan tidak mau sikat gigi, mengapa bunda tidak menyuruh Ihsan untuk menggosok gigi dengan air hangat saja..? Menurut ayah bunda terlalu sayang pada Ihsan sehingga kasih sayang bunda membuat Ihsan kehilangan gigi graham disaat usianya masih kecil. Dan sakitnya menurut Ihsan luarbiasa dan” akh bunda… cintai aku dengan serius dong…”
Sesuatu yang berlebihan memang biasanya tidak baik. Begitu pula dengan kasih sayang yang berlebihan akan membuat anak tidak mandiri dan mungkin tidak disiplin seperti Ihsan. Semua itu Allah telah berikan kadarnya, begitu pula dengan kasih sayang. Allah mengajarkan kasih sayang dengan tanggung jawab dan juga kelembutan. Bunda Esti dapat mengajarkan Ihsan bertanggung jawab  terhadap kesukaannya memakan yang manis-manis dengan mengajarkannya untuk menggosok gigi setelahnya. Begitu pula dengan hal lainnya yang dapat diterapkan untuk memberikan kasih sayang pada buah hati kita.

Selasa, 26 November 2013

Guru Dan Buku

Guru memang selalu identik dengan buku. Ketika memasuki kelas untuk mengajar, guru biasanya menenteng buku literatur untuk mengajar. Lalu duduk di meja, menyapa para murid, beberapa melemparkan candaan ringan untuk membuat para murid rileks, kemudian membuka buku dan mulai mengajar.
Mengajar = membahas materi yang ada di buku literatur per-bab
Seharusnya itu sudah menjadi cara lama dalam sistem belajar mengajar. Sekarang ini teknologi sudah semakin maju, dan kebanyakan anak muda sudah semakin pintar karenanya. Seharusnya tidak ada alasan untuk para guru tetap melestarikan cara mengajar menunduk-menatap-buku-lalu-menjelaskan-kepada-para-murid-lalu-menunduk-lagi-lalu-menjelaskan-lagi dan seterusnya hingga kelas bubar.
Ilustrasi di atas bukan hanya sekadar dongeng. Sejak kita SD hingga saat ini, paradigma tentang “Guru dan Buku” ini masih melekat kuat. Karena hanya beberapa yang bisa keluar dari kebiasaan lama mengajar berdasarkan literatur. Sisanya, sorry to say, membuat murid benar benar mengantuk dan berpikir “Kalau hanya membahas apa yang ada di literatur, lebih baik saya fotokopi literaturnya lalu saya bawa pulang dan baca di rumah saja. Dan waktu yang saya gunakan untuk duduk sambil mengantuk di kelas ini bisa saya gunakan untuk mengerjakan hal lain.” Dan rasanya banyak murid yang berpikir seperti ini.
Guru, apalagi dosen, dengan adanya fenomena yang disebut dengan globalisasi diharapkan menyadari bahwa mengajar dengan cara lama seharusnya sudah menjadi sejarah. Romansa “menggunakan cara lama terkadang lebih baik” itu hanya berlaku untuk beberapa hal, dan tidak termasuk dalam hal pendidikan. Yang diharapkan para murid di era sekarang ini bukan hanya sekedar materi literatur, mereka (murid) butuh lebih dari itu, yaitu pengetahuan dan dorongan untuk berpikir kritis.
Katakanlah, ketika sedang berlangsung pembelajaran, murid duduk di barisan tengah agak ke belakang, dan duduk terkantuk kantuk atau bahkan mengobrol dengan teman di bangku sebelah. Dan kali ini mari kembali bertaruh, ada jutaan siswa di Indonesia yang seperti itu.

bagaimana kalau sedikit dirubah? Siswa duduk di barisan depan, dan mata saya mengikuti gerakan guru yang mengajar sambil berjalan mendekati deretan bangku siswa. Guru tersebut tidak membawa buku literatur. Beliau hanya berdiri santai menjabarkan materi yang berkaitan dengan pelajaran, sambil mengaplikasikan beberapa materi terhadap peristiwa sekitar yang bisa dikaitkan dengan pelajaran.

Guru yang punya banyak wawasan dan luwes ketika mengajar pasti lebih aktraktif dan menarik bagi siswanya. Dengan begitu, kelas menjadi hidup, siswa tertarik untuk menyimak dan bertanya, dan yang terpenting, selain mengerti tentang materi pembelajaran, mereka mendapat banyak pengetahuan.

Adapula guru lainnya, tidak terlalu banyak bercerita ini dan itu, tapi beliau lebih banyak menuntut siswa berpikir kritis. Beberapa kalimat yang mungkin dapat diartikan secara rancu, dibahas secara detil. Terkadang setiap siswa ditanya pendapatnya. Dan beliau hanya memberi pancingan atas materi yang beliau sampaikan, sisanya beliau akan menuntut siswa untuk berpikir, kemana arah materi ini dan bagaimana pengertian hingga pengaplikasian ilmunya. Dengan begitu mereka berpikir, mereka menjawab, bertanya, dan mengerti. 
Jika semua guru dan dosen menggunakan cara mengajar seperti yang dilakukan guru di atas, saya yakin, minat belajar para pelajar di Indonesia akan bertambah, dan SKS (Sistem Kebut Semalam) dalam belajar menghadapi ujian tidak akan lagi menjadi primadona di kalangan pelajar. Seharusnya kami mengerti, bukan hanya mendengar dan menghafal.
Semoga, semua pihak yang berkepentingan dalam kegiatan belajar mengajar, dapat sama-sama belajar, memajukan pendidikan.  


Minggu, 24 November 2013

SELAMAT HARI GURU


Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana.

"SELAMAT HARI GURU"

Kalender Libur Nasional & Cuti Bersama Tahun 2013

Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 5 Tahun 2012, Nomor SKB.06/MEN/VII/2012, dan 02 Tahun 2012 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013:

Kalender Libur Nasional 2013
1 Jan
Tahun Baru 2013
Libur Nasional
24 Februari
Maulid Nabi Muhammad SAW
Libur Nasional
10 Februari
Tahun Baru Imlek 2564
Libur Nasional
12 Maret
Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935
Libur Nasional
29 Maret
Wafat Isa Almasih
Libur Nasional
9 Mei
Kenaikan Isa Almasih
Libur Nasional
25 Mei
Hari Raya Waisak 2557
Libur Nasional
6 Juni
Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Libur Nasional
5-7 Agustus
Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriyah
Cuti Bersama
8-9 Agustus
Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriyah
Libur Nasional
17 Agustus
Hari Kemerdekaan RI
Libur Nasional
14 Oktober
Cuti Bersama Hari Raya Idul Adha 1434 Hijriyah
Cuti Bersama
15 Oktober
Hari Raya Idul Adha 1434 Hijriyah
Libur Nasional
5 November
Tahun Baru 1435 Hijriyah
Libur Nasional
25 Desember
Hari Raya Natal
Libur Nasional
26 Desember
Cuti Bersama Hari Raya Natal
Cuti Bersama

Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013, Klik di Sini.